Diagnosis Infeksi Tuberkulosis Laten dengan Tes Tuberkulin & IGRA

Penyakit tuberkulosis (TB) ada dalam bentuk aktif dan bentuk tidak aktif. Bentuk aktif menyebabkan gejala seperti batuk kronik lebih dari 2 minggu, batuk darah, penurunan drastis berat badan, penurunan nafsu makan, lemah, keringat malam tanpa disertai aktivitas, dan lain-lain. Infeksi tuberkulosis laten (ITBL) merupakan penyakit TB bentuk tidak aktif yang tidak disertai gejala tersebut di atas. Orang yang terjangkit ITBL mengalami respons imun yang berkepanjangan akibat kuman TB ada di dalam tubuh dalam jumlah yang sedikit dan bersembunyi/dorman.

Mengapa ITBL Perlu Mendapat Perhatian?

Memang ITBL ini tidak bergejala sehingga tidak menular, tetapi tubuh terus mengalami radang sebagai reaksi pertahanan menghadapi kuman TB. Mengapa ITBL perlu mendapat perhatian? Estimasi oleh Houben dkk pada tahun 2016 menyebutkan ITBL diderita oleh 1,7 miliar jiwa di seluruh dunia, dengan beban terbesar (20%) di negara-negara Asia Tenggara, dan 120 juta jiwa berasal dari Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk Indonesia menderita ITBL. Dheda dkk tahun 2010 menyebutkan sekitar 5 – 10% penderita ITBL berpeluang untuk menderita TB aktif di kemudian hari.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengetahui ITBL?

Penderita ITBL besar kemungkinan tidak mengalami gejala, memiliki hasil pemeriksaan foto radiologis normal, dan tidak bisa diperiksa dahak terutama pada penderita anak-anak. Hal ini menjadi tantangan yang dijawab dengan dilakukan pemeriksaan imunologis dengan tes kulit tuberkulin (tuberculin skin test), yang disebut juga tes Mantoux, dan tes darah menggunakan pemeriksaan interferon-gamma release assay (IGRA). Pemeriksaan ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan namun penting untuk menegakkan diagnosis ITBL. Namun pemeriksaan-pemeriksaan ini sebaiknya tidak boleh dilakukan mandiri oleh pasien dan harus melalui tenaga kesehatan terlatih seperti dokter spesialis paru supaya tidak menimbulkan kebingungan atau salah diagnosis.

Secara umum diagnosis LTBI harus melalui wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan penunjang (radiologis dan mikroskopik) untuk memastikan bahwa infeksi TB yang diderita pasien bukan bentuk aktif penyakit TB. Bacaan foto radiologis juga tidak menunjukkan suatu proses aktif dan hasil mikroskopik tidak menunjukkan kuman TB. Beberapa subpopulasi yang penting untuk diperiksa ITBL, khususnya di Indonesia, adalah dewasa maupun anak di bawah 5 tahun yang memiliki kontak dengan penderita TB aktif, tinggal di lingkungan yang padat, terpajan dengan asap rokok, dan/atau petugas pelayanan kesehatan.

Silakan diunduh slide presentasi dengan tombol di bawah, yang telah dibawakan dalam Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta, Sabtu 5 Oktober 2019.

Diagnostics of LTBI (PIR PDPI Jakarta/JRCU 2019)

“Diagnostics of LTBI” Slide presented by Irandi P. Pratomo, M.D., Ph.D., FAPSR at ISR JRCU 2019, Jakarta, Indonesia

Size: 4.8 MB
Published: 9 Oktober 2019

Bacaan lebih lanjut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *