Kebutuhan oksigen meningkat pada pasien penderita Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) diakibatkan oleh kerusakan paru dan vaskular paru. Penyakit ini menyebabkan peradangan pada alveolus dan jaringan vaskular paru, sehingga terjadi proses yang mengakibatkan gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terapi oksigen menjadi salah satu kunci pemulihan COVID-19 yang dapat diberikan pada kadar dan metode tertentu yaitu secara konvensional maupun menggunakan kanal hidung arus tinggi (KHAT) atau high-flow nasal cannula (HFNC).
Apa yang terjadi pada paru penderita COVID-19?
Reaksi tubuh terhadap pajanan virus SARS-CoV-2 mengakibatkan rangkaian reaksi peradangan yang mengakibatkan alveolus, sebagai unit terkecil pertukaran udara yang mengandung oksigen dan karbondioksida antara lingkungan dan tubuh, mengalami kerusakan baik pada sel alveolus tipe 1 maupun tipe 2 (AT1 dan AT2).
Kerusakan pada sel AT1 mengakibatkan terjadi penurunan produksi surfaktan yaitu senyawa yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan alveolus supaya alveolus tetap mengembang untuk menjalankan fungsinya, dan kerusakan pada sel AT2 mengakibatkan terjadi gangguan pertukaran gas. Selain itu, terjadi kerusakan jaringan vaskular paru yang bersifat berpotensi meningkatkan reaksi peradangan lebih lanjut dan infiltrasi sel radang yang semakin mengganggu fungsi pertukaran gas alveolus. Gangguan pertukaran gas ini mengakibatkan perlu diberikan terapi oksigen tambahan pada pasien COVID-19.
Bagaimana cara pemberian terapi oksigen tambahan pada penderita COVID-19?
Sebelum menentukan alat oksigen yang dibutuhkan (kanula hidung/nasal cannula, masker sederhana/simple mask, masker hirup ulang/rebreathing mask, masker tidak hirup ulang/non-breathing mask, KHAT/HFNC, ventilator, dan lain-lain), perlu dilakukan penilaian dan perhitungan kebutuhan oksigen. “Dosis” pemberian oksigen adalah perhitungan berdasarkan fraksi oksigen pada udara inspirasi (FiO2). Masing-masing alat oksigen memiliki keterbatasan FiO2 maksimal dan kecepatan aliran udara maksimal, dan pemakaian alat ini harus disesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan pasien.
Pemberian oksigen tambahan pada penderita COVID-19 dimulai dengan perhitungan FiO2, dan dilakukan penilaian berdasarkan tampilan sesak, frekuensi napas per menit, saturasi oksigen perifer (SpO2), dan penilaian indeks ROX, yang dihitung berdasarkan rumus. Apabila terdapat tanda yang menunjukkan berpotensi gagal napas, maka dapat diberikan oksigen arus tertinggi dengan harapan dapat dicapai FiO2 tertinggi dari alat tersebut. Setelah pengamatan pada 2 jam pertama, apabila tidak terdapat perbaikan, maka dapat dipikirkan penggunaan KHAT/HFNC atau bahkan ventilator.
Apa yang diunggulkan dari penggunaan KHAT/HFNC pada penderita COVID-19?
Penggunaan KHAT/HFNC dibandingkan ventilator non-invasif berdasarkan penelitian menunjukkan terdapat penurunan kemungkinan kematian dan masa lama rawat di unit intensif. Alat KHAT/HFNC sendiri dibandingkan dengan alat oksigen konvensional secara garis besar dapat memberikan FiO2 yang besar dengan arus yang tinggi tanpa menyebabkan iritasi dan tanpa mengurangi kenyamanan karena alat ini didesain sedemikian rupa mendekati kondisi fisiologis dengan pengatur kelembapan dan suhu. Namun demikian, perlu pengamatan ketat 12 jam pertama dengan periode pengamatan 2, 6, dan 12 jam untuk mencegah keterlambatan intubasi bagi penderita yang mengalami perburukan klinis. Demikian pula, harus diperhatikan persiapan alat yang memadai dan mengevaluasi kemungkinan terjadi efek samping pemberian KHAT/HFNC seperti iritasi dan pneumotoraks atau pneumomediastinum.
Silakan diunduh slide presentasi dengan tombol di bawah , yang telah dibawakan dalam Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (PIPKRA) ke-18, pada Jumat 26 Februari 2021.
Conventional and High-flow Oxygen Therapy in COVID-19 Slide Presentation on PIPKRA 2021.

artikelnya sangat membantu saya dalam memahami fisiologi paru
terima aksih dokter untuk share ilmunya